Monday, April 18, 2005
There's nothing like this...
09.30 tadi pagi.
Abis mandi, dengerin There’s Nothing Like This-nya Omar. Damn, lagu acid jazz taun 90/91 ini emang ngga ada matinya! Masih enak aja di kuping. Lumayan lah penyegaran pagi-pagi, itung-itung ngisi hati… :D
Isi lagunya simple, ngajak kita untuk menghargai apa yang kita punya. Let us appreciate what we have. But then it leads to simple questions, why do we want things we can’t have? Why are we always looking for substitution for what we have? Kenapa sih manusia ngga pernah puas? Bagian dari nature-nya manusia? Atau emang kita aja yang ngga pernah ngerasa cukup?
[SIGH]
*There’s no subtitution for what we have - Omar*
Friday, April 15, 2005
No Regrets.
(they’ll only hurt)
This month's poll:
What’s the thing that you regret the most in your entire life?
a. Your Career
b. The love of your life
c. A blast from the past, or
d. ……………………(please fill in your answer)
Kalau saja pertanyaan ini muncul, apa kira-kira jawaban yang akan meluncur dari mulut Anda? Jika Anda sedang bermasalah di tempat Anda bekerja sekarang, mungkin secara otomatis Anda langsung berkeluh-kesah tentang kantor dengan beragam isi dan suasana di dalamnya.
Mulai dari karir yang seolah membuat Anda lari di tempat selama beberapa tahun ini. Atau mungkin gaji yang Anda rasa di bawah standar upah mininum hura-hura gemerlap dunia, dengan kata lain, gaji yang terasa merambat sangat perlahan sudah tidak mampu lagi membiayai gaya hidup Anda yang menuntut pengeluaran untuk fitness, spa, yoga, belum lagi kunjungan mendadak ke club-club.
Bahkan bos, teman-teman kerja, suasana kerja, sampai kebijakan perusahaan, sangat potensial menjadi kambing berbulu hitam yang menyebalkan. Sehingga Anda merasa keputusan untuk bergabung dengan kantor yang sekarang adalah hal yang paling Anda sesali seumur hidup.
Atau ada hal lain yang paling Anda sesali? Cinta mungkin? Saya yakin pasti banyak juga yang memilih jawaban ini :-). Mulai dari tambatan hati yang ternyata tak menambatkan hatinya pada Anda (bahkan ngelirik juga ngga! :-P). Atau tentang masa-masa cerah bertahun-tahun yang harus berakhir suram. Mungkin juga tentang teman hidup yang kesulitan menjaga cintanya dan masih bingung memilih teman hidup dan teman tidur yang tepat.
Mungkin Anda sendiri yang memiliki masalah dalam menjaga komitmen dan memelihara hubungan. Yang membuat Anda selalu berenang dalam keraguan dan berendam dalam ketakutan. Sehingga akhirnya Anda lebih memilih membuat keputusan yang selalu membuat Anda terpojok sendiri dan menyesal?
Masih banyak hal-hal lain di mana Anda merasa telah membuat keputusan yang salah dalam hidup dan Anda sesali kemudian hari. Segitu bersalahnya kita dalam mengambil keputusan kala itu?
Bisa jadi, iya.
Bisa juga, tidak.
Bisa juga, tidak.
Tapi sayang saja, kalau Anda menghabiskan sisa waktu menangisi yang lalu. Yang membuat Anda berendam dalam air mata dan menambah garis luka di hati. Nikmati aja manisnya gula dan pahitnya kopi dalam hidup…
*please dear, don’t cry & don’t die!*
Thursday, March 31, 2005
See You, Insanians!
If life is like motion pictures, may my time with you be the greatest picture of them all. With all the wonderful scenes that will never be faded in time.
Sincere thanks & best wishes for the future.
Past & Present:
Shafri Mohamad, David Soo, Yvonne W, Mike Oktalina, Yussy, Dian, Ganesha Tamzil, Pipiek Prahastuty, Nadya Prayudhi, Budi Suhartono, Fahroni, Ratu Astrid, etc.
Thursday, March 17, 2005
Event of the Year
Incognito, Lizz Wright, etc.
Visit my photo blog to see pictures of them on stage!
Sayang ngga bawa kamera pas hari pertama, Laura Fygi & Tania Maria getooo lowhhhh…
*sad event juga sih :(*
Incognito, Lizz Wright, etc.
Visit my photo blog to see pictures of them on stage!
Sayang ngga bawa kamera pas hari pertama, Laura Fygi & Tania Maria getooo lowhhhh…
*sad event juga sih :(*
Friday, March 11, 2005
Sebuah Permohonan Maaf
Aku mohon maaf atas mentari yang bersinar terik membakar kulitmu
Aku mohon maaf atas rembulan yang menebar dingin di atas kesendirian
Aku mohon maaf atas air mata mentari yang menetes menjadi debu
Aku mohon maaf atas semesta yang memisahkan mentari dan rembulan
Aku mohon maaf atas mawar merah yang kini menghitam layu
Aku mohon maaf atas kenangan yang telah tertelan waktu
Aku mohon maaf atas kata-kata yang pernah terangkai
Aku mohon maaf atas pudarnya foto usang yang pernah terbingkai
Aku mohon maaf atas terangnya api lilin yang kini telah meredup
Aku mohon maaf atas kebencian yang kini menyala merah
Aku mohon maaf atas jalan yang membuatmu tersesat dalam hidup
Aku mohon maaf atas duka dan kecewa yang menjelma menjadi amarah
Aku mohon maaf atas manisnya gula dan pahitnya kopi
Aku mohon maaf atas angin yang sempat membawa daun pergi
Aku mohon maaf atas kecutnya senyum dan getirnya tawa
Aku mohon maaf atas getaran-getaran yang pernah merasuk jiwa
Aku mohon maaf atas semuanya…
*Terimakasih atas semua keindahan yang pernah tercipta*
Thursday, March 10, 2005
Jigsaw Sejuta Keping.
Apa yang membuat Anda sayang kepada pasangan Anda?
Mungkin Anda pernah membaca pertanyaan ini di sebuah majalah gaya hidup wanita, atau majalah pria, atau sangat mungkin keluar beberapa kali dari mulut pasangan Anda sendiri. Bukan karena ia mempertanyakan rasa sayang Anda, tapi mungkin ia hanya ingin mendengarnya langsung terucap dari bibir Anda. Walapun hanya sekedar untuk membuatnya nyaman.
Bagi sebagian orang langsung terbersit rangkaian jawaban dengan mudahnya. Aku sayang kamu karena kamu baik, karena kamu cantik, karena kamu perhatian banget sama aku, bla… bla… bla… Sangat mudah bukan, untuk merangkai jawaban seperti ini.
Tapi ngga tahu kenapa, pertanyaan ini buat saya menjadi sedikit absurd dan agak sulit dijawab. Nanti jika ada yang lebih baik dari aku gimana? Apalagi ada yang lebih cantik dari aku? Atau bagaimana jika ada yang lebih perhatian ke kamu? Nah, buyar deh semua jawaban yang telah keluar.
Salah ngga sih kalau kita bilang, aku sayang kamu karena semuanya. Iya, SEMUANYA. Bukan karena ingin cari aman, tapi emang begitu adanya. Seperti ribuan keping teka-teki jigsaw yang tersusun satu per satu. Keseluruhan hal-hal kecil dari diri mereka yang terepresentasi dalam satu pribadi yang utuh. Pribadi yang selalu ada di sisi kita.
Terus, bagaimana dengan pertanyaan: Apa yang Anda benci dari pasangan Anda?
Jika emosi Anda sedang meningkat tinggi, jawaban untuk pertanyaan ini akan tumpah ruah dengan mudahnya. Hal yang selama ini tak pernah menjadi masalah, saya jamin akan menjadi bagian-bagian besar yang mewarnai rangkaian jawaban Anda. Entah Anda sekedar ingin bersikap jujur, atau memang dengan intensi untuk menyakiti. Bukan tak mungkin, jawaban Anda akan menyulut babak perang baru, yang lebih menyakitkan.
Jika keadaan sedang normal atau suasana hati lagi enak, Anda mungkin malah kehilangan jawaban. Tapi tetap menggerutu tentang bagaimana ia membuang tissue bekas sembarangan, ngupil seenaknya, kalau janjian suka telat, pergi ngumpul sama teman di pub ngga bilang-bilang, ngga pernah sholat, dsb.
Apalagi, jika ada hal-hal yang baru saja Anda ketahui mengenai seseorang yang selama ini Anda kira telah mengenalnya sangat dekat. Hal-hal baru? Atau perubahan? Atau selama ini Anda saja yang belum tahu?
Kulit kan kadang beda sama isinya. Sedih aja kalau baru tahu sekarang. Kalau hal tersebut menyenangkan mungkin ngga akan jadi masalah. Tapi kalau hal tersebut tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya. Derajat kesedihan akan meningkat drastis. Tingkat kekecewaan akan melonjak tajam.
Sama seperti banyaknya hal yang Anda sayangi dari pasangan Anda, ratusan ribu kepingan hal-hal yang Anda benci dari pasangan tersusun satu per satu. Baik untuk Anda benci atau mau Anda terima. Pahit memang rasanya harus menelan ribuan keping hal-hal yang tak Anda suka.
Anyway, semua kepingan jigsaw ini tersusun bukannya tanpa alasan. Kita juga bukan orang bodoh yang menyusun teka-teki jigsaw segini banyak tanpa tujuan. Sampai semua tersusun rapi sejuta keping teka-teki jigsaw ini, kita mungkin akan menemukan jawaban, bahwa ia orang yang tepat untuk kita.
Atau kita akan membiarkan sejuta kepingan ini tetap tercecer sendiri-sendiri…
*susahnya memungut keping-keping yang tercecer*
Thursday, March 03, 2005
Until…
Until the day we become one
Until the day that you are me and I am you
Aduh, manis banget ngga sih dua lines di atas? Jika dua orang manusia bisa menjadi satu. Satu pikiran. Satu hati. Dua tubuh dan dua jiwa yang menjadi satu.
Bisa mengerti perasaan pasangan, tanpa harus ada yang bersusah payah menyusun kata-kata yang tertuang dalam kalimat nan indah. Bisa mengerti kemauan pasangan, tanpa harus ada yang memproklamirkan pernyataan-pernyataan dan tuntutan-tuntutan. Bisa menyamakan pikiran, tubuh, hati dan jiwa, tanpa ada pemaksaan dan tekanan.
Sampai pada saat “the day”, hidup akan terasa sangat lengkap. Mungkin kita ngga akan pernah minat lagi kepada hal-hal lain di dunia ini. Mungkin kita ngga akan pernah minta yang lain. Buat apa lagi?
Tapi jangan mimpi, “the day” tak akan datang dengan sangat mudahnya. Andai saja menyatukan dua anak manusia begitu gampangnya. Akan banyak perbedaan. Akan banyak pertikaian ego. Akan banyak pertanyaan dan pernyataan yang disertai amarah. Akan banyak rasa dingin dan rasa basi yang menyelimuti suasana hati.
“The day” mungkin tak akan pernah terjadi. Mungkin “We” masih tetap berupa dua orang yang berbeda. Mungkin “You” akan tetap menjadi dirinya sendiri, begitu pula nasibnya dengan “Me”.
Belum lagi kalo kita menyebut tokoh-tokoh absurd seperti faktor eksternal. Akan banyak tokoh-tokoh jahat ini yang berkeliaran di sudut-sudut jalan. Akan banyak faktor X bertebaran yang bisa mengganggu di tengah jalan nanti. Faktor X yang akan selalu menimbulkan keraguan dan ketidakpastian.
Pesimis? Aduh, jangan dulu. Sayang sekali harus ngelepas semuanya, hanya karena angan-angan berbeda dengan kenyataan. Sayang sekali harus membuang semua tanpa sisa, hanya karena mimpi tak seindah yang dibayangkan. Tapi sedikit usaha rasanya menjadi sangat berharga.
Terus usaha, hingga hal yang ngga mungkin bisa menjadi mungkin. Hingga matahari bisa bertemu bulan. Hingga cinta dan benci bertegur sapa. Hingga langit dan bumi bisa jadi satu. Hingga air mata menetes beku.
Terus aja usaha. Until the day, until the time that time stands still...
Until the rainbow burns the stars out in the sky
Until the ocean covers every mountain high
Until the dolphin flies and parrots live at sea
Until we dream of life and life becomes a dream
Until the day is night and night becomes the day
Until the trees and sea just up and fly away
Until the day that 8x8x8 is 4
Until the day that is the day that are no more
Until the day the earth starts turning right to left
Until the earth just for the sun denies itself
Until dear Mother Nature says her work is through
Until the day that you are me and I am you
- Stevie Wonder “As”-
Image: Atlas Supports the Heavens on his Shoulders, 1731 (engraving)
Saturday, February 26, 2005
Pulang.
Pernah kebayang kita akan jadi seperti sekarang ini? Sepuluh tahun yang lalu, mungkin kita ngga pernah kebayang semua jalan yang pernah kita ambil sampai kita bisa ada di sini sekarang. Sepuluh tahun yang lalu, mungkin kita ngga pernah kebayang adegan-adegan kejadian yang akan kita alami sepanjang jalan.
Kebayang kan panjangnya tali kehidupan kita. Kebayang kan jauhnya perjalanan kita selama ini. Beragam warna-warni foto kehidupan, yang dulu mungkin ngga pernah terlintas untuk terbingkai di ingatan.
Kita semua. Sendiri-sendiri. Setiap orang dari kita hidup dalam dunia kecilnya masing-masing. Mulai dari kita membuka pintu rumah, menapaki jalan, sampai kita menutup mata.
Terkadang suka bikin bingung, apa sih yang sebenernya kita cari? Mengejar mimpi dan aspirasi? Atau sekedar perjalanan panjang tanpa henti? Atau eksplorasi diri akan dunia? Sebenarnya apa sih yang lebih berharga di ujung perjalanan nanti?
Sendiri.
Jauh.
Capek.
Kosong.
Setelah semuanya, pengen rasanya pulang ke rumah. Seperti anak kecil yang telah letih jauh pergi bermain dan pulang ke rumah di sore hari. Istirahat. Tenang. Aman. Nyaman.
Pengen rasanya pulang ke kamu selamanya…
*I love the thought of coming home to you*
Thursday, February 03, 2005
Past. Present. Future.
Masih inget waktu baru belajar Bahasa Inggris jaman SD atau SMP? Pasti kaget kalau ternyata kata kerja (atau yang lebih akrab dipanggil verbs) dalam Bahasa Inggris dibagi menurut frame waktu kapan kata kerja tersebut dilakukan. Alangkah sibuknya kita menghapal pembedaan kata-kata kerja ini.
Betapa rajinnya bule-bule ini mengatur pola gramatikal bahasa mereka. Dengan jelas membagi periode waktu dalam hidup mereka dan tertuang dalam tutur kata. Mau past tense? Atau past continous tense? Atau present continous tense? Atau mau lebih bicara tentang future?
Betapa pentingnya pembagian kerangka waktu dalam kehidupan manusia. Masa lalu tetap menjadi bagian dari masa lalu. Walau pun terkadang masa lalu tetap menjadi bagian yang susah untuk dilupakan di masa kini. Mungkin ada baiknya masa lalu tersimpan dengan baik dalam porsinya sendiri, tanpa mengganggu masa kini, apalagi jika memiliki potensi mengganggu keberadaan masa depan. Waduh, bisa bahaya.
Kerangka masa depan yang sudah terangkai dengan baik, bisa tercerai-berai. Masa kini dan masa depan sangat mungkin untuk terpisah, tanpa ada hubungan waktu lagi.
Kasian juga nasibnya si present. Bimbang di tengah jalan, dengan pilihan yang sudah jelas. Memilih untuk tetap menyimpan si past, sang teman lama. Atau bersama si future. Ngomong-ngomong siapa sih gerangan si future ini?
Yah, namanya juga masa depan. Siapa sih yang bisa nebak. Bisa lebih kelam dari masa lalu yang paling gelap. Bisa jauh lebih terang dari gemerlapnya masa kini. Siapa sih yang bisa tahu dengan pasti.
Biarkan masa kini membentuk dirinya sendiri. Untung-untung jika masa kini bisa membentuk masa depan dengan baik. Biarkan masa kini berhubungan dengan masa depan, tanpa harus bersinggungan dengan masa lalu yang sudah keluar dari konteks.
Tetapi, jika masa kini lebih memilih untuk tenggelam bersama masa lalu?
Terserah sih…
*Dengerin Simply Red - “Holding Back the Years” ahhh… :p*
Thursday, January 13, 2005
What if...
What if I did that rather than did this?
What if I did what I thought was right?
What if I was right and you were wrong?
What if I was wrong for so long?
What if I don’t do anything?
What if I come up with something?
What if I listen to my heart?
What if I play the other part?
What if the sun is not coming up today?
What if the moon doesn’t want to be here tonight?
What if I walk on the wrong way?
What if I stand up and fight?
What if I talk the talk?
What if I walk the walk?
What if I turn around?
What if I go down?
What if…
What if…
So many what ifs…
What if we cut all the what ifs?
*indecision needs resolution*
Monday, January 10, 2005
"He never knew that he was the CAUSE."
Seekin' the Cause - Miguel Pinero
source: http://www.randomscribbles.com/misc/pinero/seekinthecause.html
more poems by Pinero:
http://oldpoetry.com/authors/Miguel%20Pinero
Tuesday, January 04, 2005
Tubuh:
Sebuah Representasi
Body*:
1 a : the main part of a plant or animal body especially as distinguished from limbs and head : TRUNK b : the main, central, or principal part: as (1) : the nave of a church (2) : the bed or box of a vehicle on or in which the load is placed (3) : the enclosed or partly enclosed part of an automobile2 a : the organized physical substance of an animal or plant either living or dead: as (1) : the material part or nature of a human being (2) : the dead organism : CORPSE b : a human being : PERSON
*Merriam Webster
Tapi rasanya penjelasan di atas tak cukup menjabarkan perihal tubuh manusia. Secara harfiah, tubuh memang hanya bersifat fisik seperti di atas. Di luar itu, tubuh mengandung banyak makna di balik sekedar tampilan kasat mata.
Dari jaman Yunani kuno saja, sudah muncul silang pendapat. Mana yang lebih tinggi, kebahagiaan tubuh atau kebahagiaan mental? Pada saat yang sama, muncul pula aliran yang mengatakan, bahwa tubuh adalah kuburan bagi jiwa. Yang lebih netral mungkin pemikiran bangsa Romawi, yang menempatkan tubuh dan jiwa sebagai bagian dari kosmik. Mungkin pada waktu itu, muncul pertanyaan-pertanyaan kontemplatif mengenai makna dan peran tubuh.
Sedemikian rumitkah makna dan peran tubuh?
Mungkin saja. Buktinya, pembahasan mengenai tubuh bertebaran di beragam disiplin ilmu. Mulai dari kedokteran, antropologi, sosiologi, hingga psikologi. Manusia memang perlu memahami dirinya sendiri. Tapi jika menelaah semua pembahasan ilmiah ini, rasanya peran dan makna tubuh menjadi semakin jauh (jika tidak bisa disebut absurd).
Awalnya, tubuh hanya menjadi perwujudan bentuk manusia. Kini berkembang, hingga menjadi alat untuk menelaah masyarakat. Seolah semua pola yang berkembang di masyarakat, ter-representasikan dengan baik dalam wujud tubuh. Tubuh fisik menjadi tubuh sosial. Bayangkan, setiap pagi kita melihat tubuh kita terpantul di cermin. Tetapi ternyata kita sedang mengamati pantulan fenomena sosial.
Belum lagi, pendapat filsuf kenamaan dan kritisi sosial dari Perancis, Michel Foucault, yang merelasikan tubuh dengan kekuasaan. Tubuh bersifat mekanis dan ideologis. Bahkan, seksualitas manusia (termasuk pola hubungan seksual) melalui prosedur-prosedur tertentu dari “kekuasaan yang berlaku”. Menarik juga membaca lebih jauh literatur monumental beliau, The History of A Sexuality (1976), atau The Use of Pleasure (1985).
Politisasi tubuh?
Semakin aneh. Ketika tubuh yang satu diposisikan lebih tinggi dari tubuh yang lain. Susunan substansi fisik manusia yang sama, tapi memiliki makna dan hak hidup yang berbeda. Kenapa sih harus terjadi pembantaian, apakah karena tubuh sebuah bangsa bukan turunan tubuh bangsa Arya? Kenapa sih harus ada pembedaan hak dan kewajiban, karena warna yang tertera di kulit berbeda?
Jangan salah, dunia advertising yang disembah-sembah sebagai salah satu pilar yang membentuk peradaban manusia, ikut mempolitisasi tubuh manusia. Tubuh terjebak dalam pilar kebudayaan konsumerisasi. Betapa asyiknya kita membentuk persepsi akan tubuh dengan pencitraan visual dan representasi tubuh yang “ideal”.
Saya kadang suka bingung sendiri. Tinta-tinta yang tertoreh di atas kulit dan tubuh bercampur dengan darah, ternyata juga dianggap sebagai bagian dari representasi fenomena sosial. Atau teman-teman saya dengan logam berat mengoyak semua bagian tubuh. Atau sedikit modifikasi di sana-sini atas bentuk tubuh. Dulu, ini semua dibubuhi stempel besar bertuliskan patologi sosial.
Bukan hanya menjadi representasi patologi sosial, kadang tubuh juga menjadi representasi patologi seksual. Ngga perlu disebut secara eksplisit, betapa banyaknya penyimpangan dan penyalahgunaan tubuh yang malang melintang di luar lingkaran norma seksual, keluar dari rujukan kotaknya norma sosial.
Patologi seksual? Mungkin juga. Anehnya lagi, pada saat yang sama tubuh menyumbangkan kontribusi terbesar dalam industri seksual. Industri seksual yang kita nikmati bersama juga.
Saat ini, ratusan ribu tubuh-tubuh manusia terkapar mati, terapung dan hilang. Mulai dari ujung pulau Sumatera sampai daratan Afrika. Representasi apa lagi? Ada yang bilang, ini pertanda akan menimbunnya dosa manusia. Ada yang bilang, ini peringatan bagi manusia yang telah lupa akan Tuhannya. Teganya. Seakan yang tubuh-tubuh yang hilang adalah tubuh-tubuh penuh dosa. Bagaimana dengan jutaan tubuh berlumur nista yang masih hidup bebas menghirup udara, menikmati dunia?
Malang banget nasib tubuh manusia. Tereksplorasi. Tereksploitasi. Pelaku. Tersangka. Tertuduh. Terdakwa. Pemain utama. Figuran. Penonton. Terinjak. Terfitnah. Terkotak-kotak.
Silakan dinikmati dan diapresiasi dengan baik tubuh kita…
(sedikit eksplorasi boleh juga kok! :p)
*live before you die!*
Tuesday, December 28, 2004
Monday, December 27, 2004
Count Down
5, 4, 3, 2, 1…
Serentak terompet-terompet kertas berbunyi bersamaan, panjang mengisi riuhnya detik-detik Tahun Baru. Kasian juga nasib terompet-terompet kertas ini. Penampilan glamor kertas hias bewarna-warni yang melekat di tubuh karton, hanya mampu bertahan berkelap-kelip selama beberapa hari saja. Hanya dalam hitungan mundur beberapa detik, industri dadakan yang muncul sekali dalam setaun ini buyar sudah.
Besok pagi terompet-terompet kertas ini akan teronggok pahit di tempat sampah, bersama dengan rekan-rekannya para saksofon dan trombon, yang juga sama-sama berjenis kelamin kertas dan karton ini. Mungkin saya termasuk orang-orang yang kurang beruntung, tidak tertarik untuk menikmati kemewahan meniup alat musik mainan ini di kala Tahun Baru datang.
5, 4, 3, 2, 1…
Serentak teriakan-teriakan liar muncul dari dalam kamar-kamar hotel dan apartemen. Teriakan-teriakan gembira setengah sadar, keluar bersama bau alkohol yang menyembur. Maklum, kamar hotel mendadak jadi tempat favorit untuk merayakan Tahun Baru.
Ada yang patungan buka kamar atau kalau lebih beruntung ada yang modalin, atau mungkin ada rela apartemennya di-abuse secara beramai-ramai . Bisa hotel-hotel di sudut kota Jakarta, tapi mungkin lebih enak lagi kalau di luar kota. Bali? Kalau di sini, bisa menikmati minuman sambil teriak-teriak terkapar di atas pasir. Saya juga bukan orang beruntung, yang tertarik untuk menghabiskan malam Tahun Baru (& menghabiskan uang) di sini.
5, 4, 3, 2, 1…
Serentak acara-acara di layar televisi berubah menjadi satu template besar. Seperti layaknya jaringan televisi besar yang me-relay satu program tayangan yang sama. Remote control, yang notabene simbol kuasa khalayak atas media televisi mendadak tidak berguna sama sekali.
Kalau mencari lawakan garing dengan artis-artis hiburan yang super basi, mungkin ini saat yang tepat. Lagi-lagi, saya juga bukan orang beruntung, yang tertarik untuk memaku mata saya di depan tabung bodoh ini sepanjang malam.
5, 4, 3, 2, 1…
Serentak harapan-harapan baru terucap. Daftar panjang wish list dan resolution list, terurai dengan indah. Mungkin Tahun Baru menjadi awal yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru. Walaupun, sebenarnya kita bisa menyusun rencana perbaikan diri kapan saja bukan? Tahun Baru, wish list baru. Sayangnya, saya juga bukan orang beruntung yang dapat meraih semua harapan yang dicanangkan di sepanjang tahun.
5, 4, 3, 2, 1…
Serentak euphoria kemeriahan Tahun Baru menjangkit dimana-mana. Beberapa tahun yang lalu di buaian malam Tahun Baru, saya terduduk di depan telepon. Nikmat berbincang dengan seseorang, tentang indahnya memulai hubungan yang baru di tahun yang baru. Ternyata, saya dan dia bukan orang-orang beruntung, yang dapat mengasuh terus hubungan baru itu.
5, 4, 3, 2, 1…
Serentak semua orang sibuk dengan rencana liburan dan run down kegiatan untuk mengisi acara perhitungan mundur detik-detik peralihan tahun. Saya bukan orang beruntung yang dapat membedakan arti malam Tahun Baru dan malam-malam hari biasa. Namun, kali ini saya sedikit berdebar menanti Tahun Baru untuk datang menjemput. Tahun Baru kali ini berarti satu undakan baru dalam hidup saya. Mudah-mudahan setelah Tahun Baru besok ini, saya menjadi orang yang beruntung dapat menghabiskan malam Tahun Baru selanjutnya selamanya bersama dia…
5, 4, 3, 2, 1…
Selamat Tahun Baru semuanya!
*Tout le monde, tout les amis: Happy New Year, Luv’ U all!*
Sunday, December 26, 2004
Friday, December 24, 2004
Too much caffeine will kill you...
O8.00 pagi.
Meja kantor.
Belum tidur.
Rokok.
Kopi.
Browsing internet.
Ketak-ketik dari semalem.
Banyak pikiran.
Ngantuk.
TKA.
Kangen.
Stan Getz – One Note Samba
Mo telpon & bangunin ‘Nda.
Mo cium ‘Nda.
Laper.
Dingin.
Belum cukur rambut.
Bakar rokok lagi.
Nyeruput kopi lagi.
Les Nubians – Makeda
Ada kerjaan ngga ya hari ini?
TKA lagi (gimana ini?)
Smart Investing with Bank Mandiri on Metro TV.
Kepala panas.
Betis pegel.
Ngupi lagi…
*capek*
----------------------------------------------------------------------------------
Ngga percaya kita bisa bunuh diri pake kopi? Silakan deh baca: Frequently Asked Questions about Caffeine. Sedikit kutipan tentang overdosis kopi (ngga lucu kan, dirawat di rumah sakit ketergantungan kopi gara-gara ini! Huehehe…)
What happens when you overdose?
From Desk Reference to the Diagnostic Criteria from DSM-3-R (American Psychiatric Association, 1987):
Caffeine-Induced Organic Mental Disorder 305.90 Caffeine Intoxication
Recent consumption of caffeine, usually in excess of 250 mg.
At least five of the following signs:
1. restlessness
2. nervousness
3. excitement
4. insomnia
5. flushed face
6. diuresis
7. gastrointestinal disturbance
8. muscle twitching
9. rambling flow of thought and speech
10. tachycardia or cardiac arrhythmia
11. periods of inexhaustibility
12. psychomotor agitation
13. Not due to any physical or other mental disorder, such as an Anxiety Disorder.
Basically, overdosing on caffeine will probably be very very unpleasant but not kill or deliver permanent damage.
However, People do die from it.
*bikin PSA tentang ketergantungan kopi lucu juga kali yah? huehehe...*
Split Screen
Kami sedang enak-enaknya menikmati hari libur, rebahan santai berdua di atas kasur empuk ngobrol tentang masa depan dan pernikahan, ketika telepon itu masuk. “Gua mo cerai sama dia, sebentar lagi kita mau sidang…,” ujar suara perempuan di ujung telepon. Sesunggukan nangis. Hah?! Loe berdua bukannya baru kawin beberapa bulan? Pikir saya dalam hati.
Kaget.
Sedih.
Ngga abis pikir.
Buyarlah kenikmatan hari libur, rebahan santai berdua di atas kasur empuk ngobrol tentang masa depan dan pernikahan, ketika telepon itu masuk. Sejak kapan mereka berdua meniti karir sebagai selebritis? Kawin & cerai secepat kilat.
Cerita panjang lebar ngga lama mulai tumpah ruah keluar dari mulut si perempuan di ujung telepon. Masih sesunggukan nangis. Ratusan kata, puluhan kalimat dan beberapa alasan keluar dari panjangnya daftar hitam kisah percintaan mereka. Masalah hati yang suka nakal bermain dengan hati yang lain. Masalah perekonomian makro nasional rumah tangga. Masalah perkelaminan yang bermasalah di dalam negeri. Masalah perkelaminan yang menyeberang ke negeri lain. Masalah, masalah dan masalah. Muka saya pucat pasi ketakutan mendengar itu semua.
Berpihak?
Siapa saya?
Saya kan bukan anggota pernikahan mereka.
“Kalau ketemu dia, tolong deh dinasehatin…,” masih ujar suara perempuan di ujung telpon. Masih sesunggukan nangis. Siapa saya, berhak ikut mengatur hati dan perasaan seseorang? Siapa saya, berhak ikut mengatur tata cara penggunaan kelamin seseorang?
Bukannya saya tidak rela meminjamkan kuping, menjadi pendengar setia kisah curahan hati yang diselingi isak tangis. Bukan itu. Silakan bawa kuping saya untuk dihujani kata-kata sepuasnya. Silakan bawa kuping saya untuk dibasuh dengan air mata. Nonton adegan perpisahan sang jagoan dengan si juwita di akhir film aja sedih. Dengar berita perpisahan si penyanyi cantik dengan si foto model ganteng menghias tabung tv setiap sore aja males. Bagaimana bisa melihat kehidupan pernikahan dua orang teman dekat berakhir? Bagaimana bisa menikmati tayangan drama favorit harus berakhir dalam layar terpisah?
Anti klimaks?
Bercinta tanpa orgasme?
Bercinta tanpa rasa?
Masih jelas ingatan di kepala, ketika mata kanan saya mengintip di balik tirai view finder kamera, sering jadi mat kodak motret mesranya bertahun-tahun mereka pacaran. Masih jelas ingatan di kepala, ketika telunjuk kanan saya memijat lembut permukaan tombol shutter kamera, mengabadikan momen bersejarah mengucap janji pernikahan di depan Tuhan. Masa sekarang harus kembali menjadi saksi dan mendokumentasikan dan merekam mereka? Tapi kali ini, buyarnya rasa cinta dan berantakannya rumah tangga. Saya bukan kotak recorder hitam mungil, yang saya suka bawa-bawa waktu masih jadi kuli tinta yang berkeliaran di jalan.
Kenapa sih?
Masa segampang itu?
Memang ngga ada jalan keluar lain?
Saya yakin banyak alasan untuk menjawab pertanyaan bodoh “kenapa?”. Saya yakin itu bukan sesuatu yang gampang untuk mereka. Saya yakin mereka berdua telah menghabiskan bermalam-malam terjangkit insomnia memikirkan hal ini. Saya yakin ember di rumah mereka ngga cukup untuk menampung air mata. Saya yakin menemukan jalan keluar tidak semudah melewati lebarnya pintu gerbang rumah mereka.
Mungkin ini memang menjadi pemecahan terbaik untuk segala permasalahan yang ada di mereka. Mungkin ini memang menjadi jawaban jitu untuk semua permainan teka-teki mereka. Mungkin ini memang lebih baik, daripada mereka harus menghabiskan waktu 30 tahun ke depan terjebak hidup bersama dalam penjara rumah tangga yang menyiksa. Drama akan tetap dimainkan dalam layar terpisah.
Sedih. Harus melihat dua anak manusia yang dulu menuai cinta, kemudian memasaknya menjadi dendam dan luka. Takut. Suatu hari nanti mungkin saya yang terhimpit sempit, terjebak dalam posisi yang sama. Sangat mungkin kan? Saya kan juga cuma seorang anak manusia, yang terkadang salah menempatkan mata dan hati. Saya kan juga cuma seorang anak manusia, yang terkadang punya desakan liar ingin bercinta dengan yang berbeda. Jangan lupa, dia juga cuma seorang anak manusia.
Mungkinkah?
Seperti ini?
Aku dan dia?
Tiba-tiba handphone berdering. 01.45 pagi. Layar berbentuk bujur sangkar berkedap-kedip, memperlihatkan foto sang penelpon berwajah manis berkacamata. Senang rasanya bisa dengar suara dia, kala hati lagi tersesat dalam pertanyaan-pertanyaan ambigu. Lumayan mengusir resah dan ketakutan akan perpisahan.
“Jangan pernah lupa ya…” kata-kata saya terakhir sebelum menutup telepon. Rasanya dia sudah sangat akrab dengan kalimat ini, lengkap dengan jawaban,“Iya, iya, sayang kamu juga…”
Aduh, mudah-mudahan kita ngga akan pernah lupa. Kita kan bukan pemain drama yang suka bermain sandiwara dalam layar terpisah...
*Israel Kamakawiwo’ is singing Over the Rainbow on the stereo*
Monday, December 20, 2004
Sex, Love and Rock ‘n’ Roll
Setelah 8 tahun absen mengeluarkan album studio, akhirnya Social Distortion mengeluarkan album baru! Sex, Love and Rock ‘n’ Roll. Ternyata band punk lawas dari jaman akhir 70an ini masih eksis sampai 2004.
Saya sampai terlonjak senang mendengar berita ini. Maklum, Social Distortion termasuk salah satu band yang menemani masa-masa pemberontakan diri saya. Bukan cuma saya, mungkin ribuan atau jutaan penggemar musik punk lainnya. Termasuk pula memberi pengaruh besar ke band-band “90’s Punk Revival”, seperti Green Day ataupun Rancid.
Jika sedikit bercerita tentang sejarah musik. Social Distortion memang sudah menoreh garis panjang berlika-liku dalam perjalanannya. Berkiprah bukan hanya di Orange County dan Fullerton, tempat asalnya, tetapi juga ikut membentuk scene musik punk dunia.
Perjalanan panjang Mike Ness, sang vokalis/guitaris, dan Social Distortion, yang diisi oleh cerita kelam kecanduan obat bius, minuman keras, bilik-bilik penjara, hingga kematian Dennis Danell, gitaris yang telah menghabiskan 20 tahun merasakan pahitnya perjalanan Social Distortion.
Sex, Love and Rock ‘n’ Roll
Ada satu hal lagi yang membuat saya tercengang. Titel album yang terdengar sedikit aneh. 10 atau 20 tahun yang lalu, slogan “Sex, Drugs and Rock ‘n’ Roll” mungkin terdengar lebih akrab bagi band yang telah mengabdikan diri di musik punk 25 tahun ini.
Impulsiveness yang disertai adrenalin mengalir deras, kesendirian, kemarahan, perjuangan keras menuju kedewasaan, menjadi topik yang lebih hangat waktu itu. Topik yang lebih akrab di kuping saya 10 tahun yang lalu. Ngga heran kalau Social Distortion terasa lebih akrab menemani perjalanan hidup yang keras dan suram.
Berbanding terbalik dengan itu, “Sex, Love and Rock ‘n’ Roll” akan terasa lebih optimistis, memandang dunia dengan penuh kehangatan, cinta dan harapan. Mata memandang dengan lebih jelas akan hidup, merangkai sesuatu yang lebih berarti dari hidup.
Masih rough, masih tough, masih punk, masih fun, tetapi juga disertai tanggung jawab. Saya pribadi tak pernah membayangkan diri saya beralih dari pola defiance menjadi total conformist seperti orang awam lainnya. Tak ingin dan mungkin memang tak perlu perubahan seperti itu. Tak ada yang meminta kita untuk menjadi conformist dan menjadi manusia konvensional yang umum.
Tergantung kita sendiri yang menginterpretasikan hidup, mempersepsikan hidup, memahami serta menjalani hidup. Hidup beserta semua konsekuensinya. “Sex, Love and Rock ‘n’ Roll” menjadi line yang memiliki arti sendiri bukan hanya untuk Mike Ness, sang pencipta, tetapi juga untuk pendengar lainnya.
Atau mungkin saya saja yang menjadi melankolis saat ini. Atau mungkin karena saya ingin meniti sesuatu yang baru dalam hidup. Tapi memang line “Sex, Love and Rock ‘n’ Roll” menandakan perubahan tahap dalam hidup. Mungkin itu juga yang dirasakan Mike Ness ketika menulis lagu-lagu dan membuat album ini.
Viva Sex, Love and Rock ‘n’ Roll..!
*"I believe in love now, with all its joys and pains" - Mike Ness*
Tuesday, December 14, 2004
Mr so-called
the Righteous Preacher…
Hey, Mr so-called the Righteous Preacher…
You’ve planted rotten seeds
In a land of happiness they'll grow as evil trees
You’ve showed us every bad deeds
Spreading the dread like the cold-blooded killer bees
Hey, Mr so-called the Respectable High Priest…
You said you knew the way
With all the million words of wisdom to say
You said you’ll lead us to pure happiness
But will you survive the loneliness?
Hey, Mr so-called the Righteous Preacher…
You told us to believe what we see
You told us to believe your nonsense deep throat philosophy
The mind games and little games of psychotherapy
Walk with you or our souls can never be free
Hey, Mr so-called the Honourable Holyman…
We don't need you religion and your salvation
We don’t need your spells, tricks and evil intentions
You can let everybody prays
But let me find my own way
Hey, Mr so-called the Righteous Preacher…
You’re nothing but a joker
Hey, Mr so-called the Honourable Holyman…
You’re nothing but an evilman
*poor ol’ preacher…*
Monday, December 13, 2004
Cap-Cip-Cup
a kiss is something you can`t give without taking and can`t take without giving...
-a quote from anonim-
Baru beberapa hari yang lalu, saya baca quote ini di catatan blog temen sekantor, seorang perempuan. Eh, hari ini ada lagi temen yang mencantumkan kalimat panjang ini di status instant messenger-nya. Juga seorang perempuan.
Apa ini jadi topik yang menarik untuk kaum hawa? Sekedar ungkapan haus akan ciuman yang berarti? Iseng-iseng sambil nulis secarik catatan ini, saya input dua kata di mesin pencari. Woman dan Kissing. Hasilnya? 3,860,000 temuan untuk woman and kissing. Bervariasi mulai dari tips & trik “How to kiss a woman”, “Kissing Techniques”, “Kissing Guides”, “The Art of Kissing”, sampai topik yang lebih spesifik dan sedikit provokatif “Girls Kissing Girls and Fingering”.
How to kiss? Topik yang menarik untuk diangkat menjadi tulisan panjang yang menghias puluhan majalah lika-liku gaya hidup wanita. Bukan hanya untuk wanita, tapi tertera pula di puluhan majalah serba-serbi kehidupan pria atau ratusan lembar halaman web. Walaupun sebenarnya urusan cium mencium sudah menjadi bagian dari hidup manusia, entah dari beberapa juta tahun yang lalu (mungkin ada arkeolog gila yang menemukan ciuman pertama di dunia? Heuhehe…).
Bagian dari hidup manusia yang tak terlepas dari insting dasar manusia. Ungkapan kasih yang teruntai dalam bentuk kecup, cium atau apalah itu namanya. Atau mungkin ekspresi kebutuhan akan pemuasan seksual.
Atas nama cinta? Atas nama kasih dan sayang? Atas nama Tuhan yang memberkati pernikahan sepanjang masa? Kata siapa?
Aphrodite (baca: a-fro-DYE-tee) a.k.a nama Roman untuk Venus, atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Dewi Cinta, mungkin akan terkejut menggeleng-gelengkan kepala jika ia turun ke bumi saat ini melihat polah dan tingkah anak-anak manusia yang tercinta ini.
Konsep take and give seperti quote di atas? Konsep ideal untuk sebuah ciuman? Konsep idaman untuk sebuah ciuman terindah? Kata siapa?
Take and give bersama pasangan, selingkuhan atau apa? Take and give yang disertai sejumlah uang, bagian dari pelayanan seksual ke pelanggan? Atau pelayanan seksual tanpa disertai taking and giving a kiss? How about taking without giving?
Sekali lagi, Aphrodite bisa geleng-geleng kepala.
Ciuman bisa menjadi bahasa cinta terindah tanpa perlu diiringi kata-kata. Bisa menyulap tiada menjelma menjadi ada. Dari rambut, kening, bibir, sampai kelamin dan ujung kaki. Memompa jantung dengan aliran darah mendidih ke seluruh tubuh, tak terkecuali dari dan ke otak dan beberapa titik tubuh manusia yang penuh dengan jutaan syaraf yang sangat mudah terstimulasi dengan sensasi seksual.
Aneh. Sebuah ciuman nan lembut dengan ucapan literal “aku sayang kamu”, bisa membentuk gumpalan dosa besar tak terkira di abad ini. Sebuah ciuman liar tak bernama entah dari siapa, bisa membentuk gumpalan daging yang lahir membawa berkah kasih ke dunia.
Stimulus seksual atau buah dari stimulasi keinginan seksual?
Atas nama cinta atau nafsu?
Dari siapa ke siapa?
Lelaki ke perempuan, lelaki ke lelaki atau perempuan ke perempuan?
Bagaimana?
Di mana?
Apa yang dicium?
Bagian mana?
Shivering & Shaking?
Who kiss what/whom, when, where and with what effects?
Kalau Aphrodite penasaran bertanya ini ke anak-anak manusia yang sedang berpagutan memadu kasih, jawabannya mungkin tergantung kebutuhan dan keinginan.
Sekali lagi, Dewi tercinta ini geleng-geleng kepala…
“A kiss is something…,” katanya.
Kiss me kiss me kiss me
Your tongue is like poison
So swollen it fills up my mouth
Love me love me love me
You nail me to the floor
And push my guts all inside out
- The Cure -
Subscribe to:
Posts (Atom)




















